image
Selasa, 07 Oktober 2008

Sigh... Semakin berlarut-larut. Terlena dalam suatu kebiasaan sehingga tak ada kemajuan, stuck di tempat dan tidak mau melepas. Setiap hal yang dijalankan selalu ada harganya. Bahkan hal-hal yang berharga biasanya disadari keberadaannya setelah rasa sakit menerpa sebagai harga dari sebuah pengetahuan tentang seberapa berharganya benda itu.

Harga sebuah pengetahuan. Selalu tinggi dan kadang tak terbayar. Bisa dengan rasa penyesalan atau pun waktu yang terlewati tanpa menghargai yang telah dimiliki. Entah dalam bentuk penyesuaian diri, pengertian, cinta atau mungkin sesal serta benci yang telah menggerogoti. Lalu terbangun merasa hampa bertahun-tahun berikutnya karena tenggelam dalam ketidakpentingan perasaan yang telah memberati selama ini. Manusia seharusnya cepat belajar sebelum rasa sesal dan kecewa semakin dalam menyita hati karena terbuang-buangnya waktu yang berharga. Sayang, selain dari pengetahuan itu sendiri, pembelajaran atas pengetahuan itu pun memakan waktu. Waktu dan tenaga. Belum lagi terbukanya pikiran dan pandangan seseorang akan sesuatu. Semakin keras, semakin sempit akan semakin membutuhkan waktu. Padahal kekerasan itu terkadang hanya suatu bentuk pasti dari dinding yang dibangun untuk perlindungan dari rasa sakit ketika kesalahan langkah membayang dan menampar di depan wajah.

Bentuk pertahanan diri yang malah merugikan karena telatnya kesadaran akan kesalahan yang telah dilakukan. Entah karena seharusnya melangkah lebih jauh maupun malah menoleh dan berbalik arah. Karena, pengetahuan terkadang telat diterima. Dan kesalahan telanjur dilakukan. Sigh...Setelah berputar-putar dan berpikir... Tetap. Ga ada jawaban untuk satu pertanyaan yang sedang membayang dikepala gue. Haruskah kembali melangkah atau berhenti dan berpikir ulang tentang semua. Seberapa worth it resiko yang akan dialami? Well, we'll see... Sebab gue pun tak tau. Mungkin langkah yang bakal gue ambil adalah langkah yang salah seperti langkah yang telah gue salah ambil ratusan kali sebelumnya.

11.33