Sabtu, 25 Oktober 2008
Kebanyakan orang selalu mempermasalahkan intrik antara ambisi, harta dan cinta. Yah, hidup memang tidak akan unik dan seru tanpa bumbu intrik-intrik tersebut. Gue sih ga mau bahas semua. Dah pasti ga akan selesai-selesain gue post di entry kali ini kalo gue bahas semua. Kali ini gue cuma mau bahas satu hal. Dan sangkut-pautnya dengan beberapa hal yang gue anggap krusial. Dan gue rasa stiap orang perlu belajar tentang hal ini. Satu hal yang dah basi mungkin. Kadang jadi kontroversi atau bahasan yang paling sering dibicarakan dan dicari oleh kaum-kaum remaja muda. Permasalahan antara ambisi dan persahabatan.
Yeah, gue rasa udah jadi hal umum kalo sahabat atau temen deket atau yang cuma temen aja-mungkin karena cuma temen biasa-saling back stabbing soal cinta. Gue sih ga mau bahas soal itu. And yang ada dipikiran gue tuh ga seseru atau se-complicated yang gue tulis barusan. Cuma tentang ambisi dan persahabatan. Gue sering mengira yang bisa ngerusak persahabatan atau pertemanan hanyalah cinta yang ngebuat jarak diantara sahabat. Bahkan orang yang suka emosian akan punya temen-temen sejati yang mengerti turun dan naik emosinya. Mungkin mereka akan berkelahi, tetapi hanya untuk berdamai kembali. Yang gue baru sadari adalah gimana ambisi dan ego serta keinginan yang dicampur dengan emosi membuat segalanya rusak. Yang bahkan buat gue udah ga bisa dibilang etis lagi, karena persahabatan terganggu karena hal itu.
Mungkin bagi beberapa orang ambisi dan tujuan adalah urusan pribadi yang ga usah disangkut pautin sama temen. Like business is business and friend is friend. Dua hal yang berbeda. Dan dipisahkan. Tetapi apa yang terjadi ketika keegoisan dan ambisi sesaat yang menggelapkan mata dan membuat teman lo yang berada di depan seakan menjerumuskan dan menghalangin lo dengan tujuan lo? The end. Tamat. Ga ada. Karena pertengkaran akan terjadi. Yang membuat gue berpikir lagi... Gosh. Dia teman lo yang harusnya ga akan menjerumuskan lo apalagi jika dia dipihak lo and emosilah membutakan segalanya...
Butuh banyak waktu dan hukum alam untuk sampai mempunyai orang yang lo percaya. Yang lo anggap teman dekat dan sahabat. Yang gue anggap ga worthed aja kalo hilang karena prasangka sesaat karena ambisi dan egoisme yang didukung oleh emosi. Gue masih belajar...dan akan terus belajar. Gue pernah melakukan hal itu. Gue yakin ga semua orang tau hal-hal buruk akan dengan mudahnya memasuki kepala lo hanya karena prasangka dan ketidakpuasan. Prasangka yang mengikat lo karena lo berusaha percaya dan membuat persahabatan itu nyata adanya. Karena tidak semua bentuk dan komunikasi di dunia terlihat. Dan berbentuk. Dan sekali lagi yang terbayang malah, Gosh... Dia teman gue, how could he/she did this to me. Jawabannya? They did nothing. It's just in your head. And once again, just because emotion and ambition. Gue pernah merasa malu ketika menyadari itu semua. God... they're my friends... Won't do somehing like that to me and all of that thing are just my foolish ambition because I don't want to lose anything.
Rusak persahabatan? Parah. Sucks. You could call it anything. Tahu yang lebih parah? Kerusakan yang terjadi tidak hanya berdampak kepada lo dan dia, tetapi juga sekeliling lo. Karena tanpa sadar, setiap orang yang melakukan kesalahan dan yang merasa emosi meminta pembenaran dan permohonan maaf dari pihak lain selain mereka. Kedua sisi sama saja. Bahkan gue masih memohon maaf. Ketika gue berpaling dan menyadari kesalahan gue. Mau tau apa rasanya? Living hell! Ga tau mesti berpihak. Hanya bisa mengiyakan dan berdiri di tengah kehilangan semuanya. Great right? Padahal kesalahan bukan lo yang lakukan dan dunia runtuh tepat di depan lo. Lo ikut kehilangan karena bersikap netral dan berada di tengah. Wew. I wish yang kek gini ga lagi terjadi deh. Males duluan ngadepinnya.
Udah slesei? Nope. Karena imbas ga hanya sampai situ. Tapi ke yang lain-lain yang tau masalahnya dan mesti berpura-pura untuk tidak tahu dan tak menghiraukan. Do nothing. Feel nothing. But, deep inside, knowing something must be done. Gue? Bagaimana dengan gue? Ga ada. Gue cuma mengamati. Berpikiran dari kedua sisi. Memberikan pandangan sarkastik dan mencoba memahami semuanya... After all, I have a very bad humor sense. =P
22.14