image
Sabtu, 08 November 2008

Denting demi denting tetes hujan yang turun terdengar lembut. Sayang, tetesan lembut tak menggugah dan mendinginkan panasnya amarah yang bergejolak dalam dada. Seperti layaknya hembusan angin dingin yang lewat begitu saja, tak terasa karena kebalnya indera perasa. Demi sang waktu yang berlalu, yang terkadang cepat terasa lalu lambat merayap. Lalu semua hilang di telan waktu. Bahkan rasa-rasa pedih maupun senang. Semua luka dan ingatan yang tercap di dalam benak bagai cap panas yang digunakan sang peternak kepada para hewan ternaknya.

Yang tersisa hanyalah gesekan rasa yang terhimpit oleh indera. Indera yang tak tersadari ternyata merasakan. Merasakan gesekan, himpitan dan bekas-bekas pertarungan nyata maupun tak nyata. Indera yang tak terpikirkan karena terbiasanya. Karena memang tugasnya. Sang indera yang tanpa terasa telah mengecam semuanya. Bahkan lampiasan emosi si empunya...

Sekarang, barulah kau tanyakan... Bagaimana perasaan sang indera???

15.14