image
Senin, 01 Desember 2008

Langkahku terhenti ketika aku menyadari orang yang ku cari ada berada di sebelah kananku. Ketika ku tolehkan kepalaku kepadanya, ia sedang sibuk bermain-main dengan kucing peliharaannya. Hingga aku memutuskan untuk berjalan lebih jauh lagi ke depan dan melihat siapa tahu ada orang lain yang dapat membantuku.

Tak berapa jauh ku telah melangkah di bawah teriknya sinar mentari saat kusadari lagi-lagi ada seorang yang ku kenal di sebelah kiriku. Tetapi, dia pun lagi sibuk memotong rumput halaman rumahnya. Sepertinya ibunya sedang menyuruhnya membantu pekerjaan rumah. Hal itu membuatku mengurungkan niatku dan kembali melangkahkan kakiku. Tanpa tujuan hanya terus mencari.

Langkah demi langkah kecil aku jalani. Sambil melirik ke segala arah. Memperhatikan dan mencari. Mempelajari sampai tanpa aku sadari aku sudah berjalan jauh. Lalu aku kembali menemukan seseorang yang aku kenal. Mulutku sudah terbuka dan bersiap untuk memanggilnya. Namun, terhenti dan tergantikan dengan seulas senyum saat orang itu berlari ke arah sebaliknya dan menyapa orang lain yang aku juga kenal dekat. Bisa jadi ada sesuatu? Sesuatu yang membahagiakan mungkin, jika dilihat dari paras wajah bahagia mereka.

Kata-kata kembali tersimpan dan tak sempat terucap dari bibirku. Kakiku lah yang kembali melangkah maju. Tiada sesal yang terasa sejauh ini. Bertemu tanpa bertegur-sapa. Tanpa ada kata-kata penting yang terucap. Selalu berpikir ada lain waktu untuk bersenda-gurau atau bahkan hanya mengucap kata tangis kala kesedihan atau beban melanda. Berat terasa menekan. Tapi, kata-kata itu tidak pernah terucap dariku sampai akhirnya.

Semakin jauh langkahku. Semakin sepi keadaan sekitar. Ku terbangkit dari lamunanku dan sadar bahwa aku sudah berada di luar desa. Mendekati hutan lebat yang berada di sekeliling desa. Kaki ku tetap melangkah dan tak berhenti. Kali ini semua yang memenuhi pandanganku hanyalah warna hijau dedaunan, warna cokelat dari batang dan akar-akar pohon. Warna-warna cerah burung tropis, warna-warna samar hewan-hewan penghuni hutan yang berceloteh riang kepada sesamanya. Diriku kini terpana, melihat para hewan dan penghuni hutan ini saling berinteraksi. Aku pun mencari. Ingin dan berharap ada sesamaku di hutan lebat ini untuk di ajak berbicara. Entah mengapa, aku tidak pernah terpikir untuk kembali ke desa.

Demikianlah langkah kakiku terus membawaku semakin dalam ke hutan. Semakin asing dan tak bersua dengan sesama manusia. Tiada kawan. Dan kata-kata masih ada hari lain untuk saling bertegur sapa dengan para teman yang telah aku temui sebelum sampai ke hutan ini serasa hilang begitu saja tertiup angin. Sinar mentari yang tadinya bersinar terik kini berganti redup. Terhalangi dedaunan yang menjadi atap hutan ini. Semua terlihat berbeda. Memberiku satu makna bahwa sekali kau menyebrangi dunia maka semua akan berubah. Dan takkan kembali selayaknya sedia kala.

Aku membawa lukaku dan terus melanjutkan langkah. Luka itu lah alasan awal mengapa perjalan ke seisi desa Aku lakukan. Untuk berbagi luka itu. Yang kini terasa fana. Hilang dengan berjalannya waktu selama perjalananku hingga Aku berada di sini saat ini. Luka yang awalnya ternganga jelas bagai cap panas ditubuhku namun seperti transparan tidak terlihat. Kini benar-benar tak terasa nyata. Pada akhirnya, Aku mampu membasuh luka itu sendiri. Dan melakukan perjalanan ini. Kemudian bisa melihat pemandangan menakjubkan dihadapanku.

Sebuah danau di tengah hutan. Dengan air jernih yang seakan bisa menyembuhkan dan menyegarkan luka. Aku melepas alas kaki dan terduduk dengan lelahnya di pinggir danau itu. Perlahan Aku menurunkan kedua kaki dan memasukkannya ke dalam air yang terasa sejuk. Memain-mainkan air. Memperhatikan ikan-ikan berenang dengan nyamannya dan tidak terganggu oleh ku yang bisa dibilang merupakan makhluk asing bagi mereka.

Indah. Keindahan itu menghipnotisku. Aku tidak ingin beranjak dari tempat ini. Walau tak ada satu pun orang yang bisa di ajak berbagi, Aku yakin, Aku bisa melewati itu semua dengan terus berada di tempat ini. Biar yang telah ku lepas kini terganti dengan sesuatu yang lebih indah. Demikianlah waktu terus berlalu seperti tak terdeteksi di tempat ini. Hanya ada Aku yang terduduk dan menikmati keheningan yang mungkin bagi sebagian mencekam. Namun, tidak buatku.

14.38